Sepenggal Janji

by - 7:47 AM

       
        Dentuman musik yang mengalun bak menyatu dengan rintihan hujan, kini semakin memperkeruh suasana pagi yang terlanjur sendu. Kemarin, seseorang yang paling berarti dalam hidupku datang untuk menjauh. Kutatap kotak usang itu dan membukanya, tersisa lembar demi lembar kenangan didalamnya yang kini hanya menjadi angan – angan belaka. Separuh jiwaku telah pergi, terbawa oleh jarak yang kian menyesakkan dada.

                AKASHI FOREVER. Aku tersenyum miris, goresan tinta pada sepotong kertas bergambar burung itu belum hilang sepenuhnya, hanya saja terlihat memudar dimakan usia. Yang kufikirkan saat ini sederhana saja, apa persahabatan Kami akan seperti itu? Rapuh termakan usia, hilang seiring berjalannya waktu.

                “Kita sama – sama sudah beranjak dewasa, punya mimpi masing – masing. Lagi pula perpisahan kali ini bukan akhir segalanya kok.” Nada bicara serta penekanan pada setiap kata, bahkan huruf yang diucap olehnya masih terekam jelas di memori otakku.

                Apakah Raka hanya ingin mengerjaiku? Oh, ya tuhan! Mengapa sedari tadi aku tidak memikirkan hal itu. Pasti dia hanya bercanda! Mengingat sampai detil bagian hidupnya pun aku hafal. Perilaku, sikap, makanan atau minuman kesukaan, warna favorit, artis yang Ia gemari, hingga selera untuk setiap pakaian yang dikenakan pun sudah menjadi hal yang biasa dalam hidupku. Sebelas tahun bersahabat bukanlah waktu yang sebentar untuk mengenalinya, baik dari segi fisik maupun psikis.

                Tak ingin membuang waktu Aku segaja melangkah lebar – lebar menuju tempat yang selama ini menjadi saksi persahabatan Kami berdua. Baik dikala duka maupun suka, derita, maupun bahagia tanpa menggunakan alas kaki. Air yang menetes di permukaan kulit seakan tak terasa, hampa bagaikan mati rasa.

Raka tak pernah berbohong, sekalipun sifat jahilnya selalu membuatku naik darah.

                Seperti sekarang ini, ia benar – benar tak berbohong. Hal itu pula yang membuat tubuhku refleks menggigil tak karuan, bukan sakit karena hujan es yang sungguh dingin luar biasa ini tak henti – hentinya mengguyur tubuhku yang bisa dibilang rapuh, tapi beribu kali lipat lebih dari pada itu, apalagi kalau bukan menerima kenyataan pahit yang membuatku ingin gantung diri sekarang juga.

                Usaha untuk meredam tangis yang kian berderai, kini seolah sia – sia. Suara itu telah bersatu padu dengan bunyi gemercik air. Sementara, hujan yang kian menderas membuatku tak menemukan cahaya dimanapun, hitam gelap bagaikan malam tanpa bintang. Aku tergeletak tak sadarkan diri dengan rasa sakit yang bertubi – tubi.

****

               “Kamu sudah siuman? Bagaimana rasanya sekarang? Ada yang sakit?” ruangan berdekorasi serba putih dengan harum bunga anyelir memberikan rasa nyaman di sekujur tubuh, tanganku tersambung dengan selang infus yang tergantung di sisi kanan, langsung merasa ngilu saat itu juga. Di sisi kiri, guratan cemas datang dari wanita paruh baya berumur setengah abad, namun kecantikannya dapat menyandingi wanita dengan umur dua puluh tahun lebih muda darinya.

         “Masih sedikit pusing, Ma. Tapi jangan khawatir, Aku tak apa.” Mama selalu saja baik, merawatku dengan sepenuh jiwanya, memberi kehangatan di setiap sentuhannya, dan selalu mengajarkanku arti dari ketulusan. Itu yang membuatku merutuk diri sendiri. Tak bisa membanggakan bunda, malah terus merepotkan.

                “Dia akan kembali. Yang harus Kamu lakukan saat ini adalah hanya percaya.” Jeda sejenak. “Bahwa dia tak akan ingkar janji.” Kalau ada pepatah yang mengatakan, ibu selalu tahu perasaan anaknya, bahkan sebelum diutarakan sekalipun. Itu benar adanya.

          “Ayah ingkar janji pada Kita. Tapi apakah mama akan tetap percaya?” beliau membeku sejenak, kesalahan lagi, fikirku.

                “Ya. Karena pada dasarnya tidak ada orang yang ingkar janji, namun itu semua kembali pada tuhan, jikalau yang diatas tidak menghendaki, pasti tak akan terjadi.  Mama yakin ayah tak ingkar pada janjinya.” Bahkan di tengah kondisi seperti ini pun, ia tetap tersenyum. Sungguh, aku iri padanya.

                Disaat aku berumur lima tahun, mama sedang hamil tua. Ayah berjanji akan pulang pada hari itu, mengingat kontraknya di Hongkong telah usai, serta mama yang juga akan melahirkan adikku. Kami sudah menyiapkan perayaan untuknya, walau hanya kecil – kecilan. Tetapi, takdir berkata lain. Pesawat yang membawanya serta 216 penumpang lain tak kunjung sampai. Dua hari kemudian, dikabarkan bahwa pesawat yang ditumpanginya hilang di tengah laut. Hingga kini jasadnya pun tak ditemukan. Hingga sekarang, mama masih terus tegar membesarkanku dengan senyum kebahagiaan yang jarang kulukis, beliau memang malaikat yang sengaja diturunkan tuhan untuk menjagaku.

                “Jadi ayah tak ingkar janji?” ia membiarkanku istirahat tanpa menjawab pertanyaan tadi. Tapi senyumannya kuanggap sebagai jawaban.

                “Ayahmu adalah lelaki sejati. Kau tahu, hanya pecundang yang berani ingkar janji.” Bisiknya di sela tidurku. Telingaku masih bisa mendengarnya dengan jelas.

****

                Alunan musik klasik menggema di tempat ini. Dengan kain tebal dan kupluk yang biasa ku gunakan untuk bermain dengannya, ku beranikan diri untuk menatap lurus ke depan. Kepada seseorang yang sama sekali tak ingin ku tatap wajahnya.
               
                Guratan senyum terlukis diwajahku, “Mama benar, kalian tak pernah ingkar janji padaku. Kalian telah membuktikannya. Terimakasih.” Aku menarik nafasku dalam. “Terimakasih karena kamu mau berjuang untukku. Aku tahu kamu telah melakukan yang terbaik.”

                “Aa... Aku...” Aku melahap oksigen dengan rakus seraya terus memejamkan mata menahan air mata yang tidak boleh tumpah untuk sekarang ini. Tidak, dia tak boleh melihatku menangis. “Aku bahagia karena kamu udah damai di alam sana.” Bunda Helena masih saja terus mengusap bahuku sesekali. “Aku bahagia karena kamu udah nggak perlu nahan beban sakit lagi. Dan aku juga bahagia karena kamu udah nggak perlu memperjuangkan janji kamu padaku. Aku bahagia, Raka.”

                “Shilla... Raka menitipkan sesuatu padamu sebelum Ia pergi dari sini. Maaf ya kalau bunda baru sempat memberikannya padamu.” Aku mengangguk dan menerima kotak berwarna jingga itu. Aku tersenyum miris, kau masih ingat rupanya tentang warna kesukaanku.

                Saat kubuka kotaknya, bola salju yang sangat kuimpikan ada di hadapanku. Dulu, saat aku dan raka masih berumur enam tahun, kami memang pernah mengunjungi salah satu toko mainan dan Aku ingin sekali membeli bola salju tersebut. Namun karena mainan itu terlalu mahal bagi kami, Aku hanya pulang dengan tangan kosong sambil menangis tersedu – sedu. Aku tertawa, pengalaman yang memalukan memang. Ada juga surat dengan tulisan sangat khas miliknya. Ya, terkadang Aku lebih memilih untuk berbaik hati menuliskan semua tugas – tugasnya karena tak tahan melihat cemoohan semua guru yang anehnya membuat dia merasa senang.

                Tak sabar melihat isinya, Aku pun membaca dengan perlahan.

Teruntuk : anak jelek.
Dari : lelaki paling ganteng di dunia.
Pertama. Aku minta kamu hapus air mata kamu. Udah jelek jadi makin jelek aja nih, Bek. Bebek, maaf ya soal kepergian aku dan rahasia ini. Aku nggak mau sebenernya kasih tau kamu. Tapi ya karena aku baik jadi ya nggak papa deh.
Ini emang udah lama sih divonisnya. Aku juga sebenernya nggak percaya. Eh tapi makin kesini emang beneran makin parah penyakitnya. Jadi aku terpaksa bohong mau keluar negeri karena lanjutin sekolah. Padahal Aku berobat disana, hehe.
Tapi inti dari surat ini, aku mau hibur kamu dengan kenangan kita, biar kamu nggak ngelebarin bibir kamu lagi. Soalnya makin mirip sama bebek sih, haha peace yo!
Masih ingat soal guratan AKASHI FOREVER di pohon dekat rumah kita?

flashback on ---

“AAAAAH Rakana! Kembalikan punyaku! Rakana!” seorang bocah perempuan mengejar si pemilik rambut keriting itu sambil terus merengek meminta sesuatu.

“Tidak bisa! Wee, kejar dulu dong kalau mau!” mereka terus saling mengejar hingga bocah perempuan itu terduduk lemas.

“Aku nggak kuat kejar kamu lagi. Aku capek.” Tak lama kemudian, si pemilik rambut hitam legam tersebut langsung menangis dan terus merengek.

Bocah yang diketahui bernama Rakana itu menghampirinya dan memakaikan bando berwarna jingga itu pada temannya yang sedari tadi tidak berhenti menangis. “Udah deh, Aku minta maaf. Kamu mau kan maafin Aku? Nanti kita main sama – sama deh. Mau kan?” tawarnya sambil mengacak lembut rambut perempuan itu.

Dengan malu – malu, Ia mengangguk dan menerima uluran tangan dari Raka. “Tapi kamu janji ya jangan nakal lagi.”

Raka membawanya ke suatu tempat dimana terdapat pohon besar di depannya. Ia juga telah menyiapkan sekop, dan peralatan lain.

“Kita mau main tanah ya, Rakana?” tanya bocah perempuan itu bingung.

“Nggak dong. Nih kamu pegang ranting ini. Terus kamu tulis singkatan nama kamu.”

Gadis itu menurut dan menuliskan “Shi”. “Karena namaku Shilla, jadi Aku tulis Shi saja ya!” Raka mengangguk dan menuliskan singkatan namanya didepan nama Shilla. Ia menuliskan “Aka.” Namun tak disangka, Raka juga menuliskan forever dibelakang tulisan Shi.

flashback off ---

Aku menaruh cincin berbahan emas imitasi yang bahkan telah karatan di pusarannya. Ya, itu pemberiannya sejak kami masih duduk di sekolah dasar. Dan cincin itu masih melekat di jemariku hingga saat ini.

Terimakasih tuhan, terimakasih karena engkau telah memberikan kebahagiaan untuknya. Peluk dia tuhan, sampai nanti Aku pergi menyusul dan ikut memeluknya dengan erat.

Rakana, terimakasih karena kamu tidak pernah ingkar janji, terimakasih untuk selalu berada didekatku, dulu, kini, hingga selamanya. Rest in peace, my half soul.

You May Also Like

0 komentar

@nauraatthaya